Aku... Aku yg berkacamata, aku yg kutu buku, aku yg
tidak pandai bergaul menyukai seorang Kai yg populer, keren & pintar ?
“Tidak mungkin!”
Kata Petra pekik di telingaku.
“Maaf, maksudku apa kau tidak salah?”
Aku mengehentikan tanganku sejenak lalu kembali
menulis.
“Lupakan sekarang atau kau akan menyesal
nantinya..”
Petra mengatakan itu dengan mata sedikit aneh.
“Tapi aku masih punya kesempatan kan? Dia belum punya
pasangan!”
Petra memalingkan pandangannya dari mataku. Pertanda
ia tidak setuju pada asumsiku.
***
Pagi ini aku berpapasan dengan Kai di koridor
sekolah. Jantungku berdegup kencang. Mataku tak berani melihatnya, hanya
menunduk tanpa arah mata yg jelas, Tanganku tetap asik mengotak atik buku di
laciku dengan sedikit bergetar. Tetesan keringat melewati tengkukku.
Brukkk!!!
Bukuku jatuh.
“Hey kutu buku! Bukumu jatuh ya! Sudah bosan baca
buku?! Hahaha”
Teriak salah satu teman Kai.
“Hei! Sudahlah! Ayo pergi!”
Kudengar suara Kai berkata pada temannya. Aku
tersenyum lega. Aku buru-buru merapikan bukuku. Langsung aku menuju kantin
untuk menceritakan itu pada Petra.
“Tra! Good news!”
Kataku kegirangan.
“Ada apa San?”
“Kai Tra.. Kai!”
“Tenang tenang! Minum dulu.”
“Aku meminum minuman Petra dan kuceritakan kejadian
tadi pada Petra.
“Aku masih punya kesempatan kan?”
Aku kegirangan. Tapi Petra hanya terdiam. Ia
memandangku lekat tanpa maksud tatapan yg jelas seperti sedang memikirkan
sesuatu.
“Tra... Petra?”
“Hah?! Maaf San!”
Lalu Kai lewat di depan kami dan mengambil tempat
duduk tepat di seberang tempat duduk kami. Kai tersenyum tipis. Tak kusangka
dia tersenyum padaku. Dengan jantung yg berdegup kencang, nafas yg tidak
karuan, aku membalas senyumnya. Pipiku berubah merah, merah merona. Aku tersipu
malu dan salah tingkah sampai sampai aku meneguk minuman yg hanya tinggal
setetes. Aku buru buru mengalihkan pandanganku dan pura pura berbicara pada
Petra.
Aku memesan minuman di tempat Mak Ijah. Kulihat menu
makanan di warung itu layaknya orang yg sedang kebingungan memilih, padahal aku
hanya menyukai satu minuman dan selalu membelinya. Tanpa menunggu lama Mak Ijah
pun membuat minuman tersebut untuku. Aku mencoba menoleh ke arah kiri. Perlahan
tapi pasti. Kulihat ia asik mengobrol dengan teman-temannya tertawa riang.
Namun tiba-tiba arah matanya mengarah padaku. Aku salah tingkah, tangan kananku
merogoh uang di saku dan tangan kiriku mencoba mengambil minuman tersebut. Tapi
justru aku menumpahkan minumanku.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku keluar kelas dan
menuju tempat parkir untuk mengambil sepedaku. Tapi, baru sampai gerbang tempat
parkir, aku melihat Kai sudah di atas motornya. Aku terpaku memandanginya.
Mengagumi betapa indah ciptaan-Nya. Aku seperti orang bodoh di tengah gerbang.
Tapi matanya seperti mencari seseorang di tempatku berdiri. Tiba-tiba ia
melambaikan tangannya. Padaku? Aku begitu kaget danmembalas lambaiannya dengan
kaku. Namun ada seseorang berlalri lewat sampingku. Ia menuju motor Kai. Begitu
ia naik, ia menolehku dengan mata yg aku tak tau apa maksudnya. Tapi ituuu, itu
Petra ! Dadaku terasa sesak. Air mataku tak tahan untuk menetes. Pikiranku
melayang-layang. Tak kuat jika harus melihat mereka berboncengan.
Aku berlari, berlari sekuat tenaga menuju tempat sepi.
Aku terduduk, menangis sejadi-jadinya. Tidak menyangka bahwa Petra telah lebih
dulu bersama Kai, ia tak pernah cerita apapun kepadaku. Ingin menjerit.
Tapi tiba-tiba seseorang memberikan tisu tanpa bicara.
Aku segera menoleh ke arahnya. Brian ada di sana dengan wajah tersenyum.
:)