Tiwi
Kurebahkan tubuhku
Kulayangkan jauh pikiranku
Tenggelam dalam problema
Batu karang melukai
Ombak menerjang
Badai menerpa
Aku letih dengan semua

Denting arlojiku terdengar
Lembut dan jelas
Mengingatkan saat-saat lalu
Tanpa-Mu...
Waktu yang telah kulalui
Kusia-siakan..

Aku tlah lalai
Akan keberadaan-Mu
Ampuni aku...
Label: 0 komentar | edit post
Tiwi
Aku... Aku yg berkacamata, aku yg kutu buku, aku yg tidak pandai bergaul menyukai seorang Kai yg populer, keren & pintar ?
“Tidak mungkin!”
Kata Petra pekik di telingaku.
“Maaf, maksudku apa kau tidak salah?”
Aku mengehentikan tanganku sejenak lalu kembali menulis.
“Lupakan sekarang atau kau akan menyesal nantinya..”
Petra mengatakan itu dengan mata sedikit aneh.
“Tapi aku masih punya kesempatan kan? Dia belum punya pasangan!”
Petra memalingkan pandangannya dari mataku. Pertanda ia tidak setuju pada asumsiku.
***
Pagi ini aku berpapasan dengan Kai di koridor sekolah. Jantungku berdegup kencang. Mataku tak berani melihatnya, hanya menunduk tanpa arah mata yg jelas, Tanganku tetap asik mengotak atik buku di laciku dengan sedikit bergetar. Tetesan keringat melewati tengkukku.
Brukkk!!!
Bukuku jatuh.
“Hey kutu buku! Bukumu jatuh ya! Sudah bosan baca buku?! Hahaha”
Teriak salah satu teman Kai.
“Hei! Sudahlah! Ayo pergi!”
Kudengar suara Kai berkata pada temannya. Aku tersenyum lega. Aku buru-buru merapikan bukuku. Langsung aku menuju kantin untuk menceritakan  itu pada Petra.
“Tra! Good news!”
Kataku kegirangan.
“Ada apa San?”
“Kai Tra.. Kai!”
“Tenang tenang! Minum dulu.”
“Aku meminum minuman Petra dan kuceritakan kejadian tadi pada Petra.
“Aku masih punya kesempatan kan?”
Aku kegirangan. Tapi Petra hanya terdiam. Ia memandangku lekat tanpa maksud tatapan yg jelas seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Tra... Petra?”
“Hah?! Maaf San!”
Lalu Kai lewat di depan kami dan mengambil tempat duduk tepat di seberang tempat duduk kami. Kai tersenyum tipis. Tak kusangka dia tersenyum padaku. Dengan jantung yg berdegup kencang, nafas yg tidak karuan, aku membalas senyumnya. Pipiku berubah merah, merah merona. Aku tersipu malu dan salah tingkah sampai sampai aku meneguk minuman yg hanya tinggal setetes. Aku buru buru mengalihkan pandanganku dan pura pura berbicara pada Petra.
Aku memesan minuman di tempat Mak Ijah. Kulihat menu makanan di warung itu layaknya orang yg sedang kebingungan memilih, padahal aku hanya menyukai satu minuman dan selalu membelinya. Tanpa menunggu lama Mak Ijah pun membuat minuman tersebut untuku. Aku mencoba menoleh ke arah kiri. Perlahan tapi pasti. Kulihat ia asik mengobrol dengan teman-temannya tertawa riang. Namun tiba-tiba arah matanya mengarah padaku. Aku salah tingkah, tangan kananku merogoh uang di saku dan tangan kiriku mencoba mengambil minuman tersebut. Tapi justru aku menumpahkan minumanku.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku keluar kelas dan menuju tempat parkir untuk mengambil sepedaku. Tapi, baru sampai gerbang tempat parkir, aku melihat Kai sudah di atas motornya. Aku terpaku memandanginya. Mengagumi betapa indah ciptaan-Nya. Aku seperti orang bodoh di tengah gerbang. Tapi matanya seperti mencari seseorang di tempatku berdiri. Tiba-tiba ia melambaikan tangannya. Padaku? Aku begitu kaget danmembalas lambaiannya dengan kaku. Namun ada seseorang berlalri lewat sampingku. Ia menuju motor Kai. Begitu ia naik, ia menolehku dengan mata yg aku tak tau apa maksudnya. Tapi ituuu, itu Petra ! Dadaku terasa sesak. Air mataku tak tahan untuk menetes. Pikiranku melayang-layang. Tak kuat jika harus melihat mereka berboncengan.
Aku berlari, berlari sekuat tenaga menuju tempat sepi. Aku terduduk, menangis sejadi-jadinya. Tidak menyangka bahwa Petra telah lebih dulu bersama Kai, ia tak pernah cerita apapun kepadaku. Ingin menjerit.
Tapi tiba-tiba seseorang memberikan tisu tanpa bicara. Aku segera menoleh ke arahnya. Brian ada di sana dengan wajah tersenyum.

:)